Soal Prinsip dan Rendah Hati
Khalifah Harun al-Rasyid satu ketika meminta kepada Imam Malik untuk membacakan kitab karangannya, al-Muwaththa’ di istananya di Baghdad. Meski itu titah dari Khalifah, namun sang Imam menolak.
Bukan tanpa alasan, Imam Malik menjawab :
”Semoga Allah memuliakan raja-raja Islam. Ilmu itu asalnya dari leluhur Anda (dari keluarga Nabi Muhammad SAW). Jika Anda memuliakan ilmu, ilmu itu tentu jadi mulia. Dan sebaliknya, ilmu itu akan jadi hina jika Anda menghinakannya. Ilmu itu haruslah dicari, bukan ilmu yang mencari penuntutnya. Jadi ilmu harus didatangi, bukan mendatangi.”
Dalam keterangan lain, Imam Maliki berkata,
”Saya tidak dapat mengorbankan kepentingan umum hanya untuk kepentingan seorang pribadi.”
Kemudian bagaimana sikap sang Khalifah?
Menanggapi hal tersebut, Khalifah Harun al Rasyid dengan segala kerendahan hatinya pada akhirnya bersedia mengikuti pengajian Imam Malik di Madinah, duduk mengaji bersama para rakyat jelata.
Dua hal yang perlu digarisbawahi disini, yaitu sinergi konsistensi prinsip dari Ulama/Ilmuwan dan sisi rendah hati dari sang pemimpin. Begitulah seharusnya. Walaupun pahit, para ilmuwan harus teguh pada prinsipnya dan harus tetap kritis, bahkan berani menjewer atas sikap pemimpin yang keliru atau bahkan salah. Pun sebaliknya, pemimpin harus dengan tulus mendengarkan kritik dan sentilan dari para Ilmuwan. Jangan kemudian mencak-mencak jika disinggung tentang kealpaan atau sikap yang tidak seharusnya.
Jika prinsip para Ilmuwan/Ulama sudah tergoyahkan untuk kepentingan tertentu, dan sikap rendah hati dari para pemimpin sudah tertutup oleh kepentingan pribadi dan ambisi, problem negara mau diselesaikan oleh siapa lagi?
Indonesia, apa kabar?